KOKAM

Anak-anak Panti Asuhan Muhammadiyah Tuksono juga diikutsertakan dalam berbagai kegiatan KOKAM, seperti DIKSAR KOKAM, Vertical Rescue, dan dalam berbagai kegiatan AMM. Gambar Latihan Vertical Rescue di atas dilaksanakan di desa Ponjong Gunung kidul- Yogyakarta.

Temu Penguatan Anak dan Keluarga

Acara Temu Penguatan Anak dan Keluarga (TEPAK) ini dilaksanakan atas kerja sama antara Dinas Sosial DIY, Dinsosnakertrans Kulon Progo dan Sakti Peksos dari Kementrian Sosial yang diadakan di Panti Asuhan Muhammadiyah Tuksono. Acara ini bertujuan agar ada pemahaman bagi anak dan orang tua tentang pengasuhan anak yang sesuai dengan Standar Nasional Pengasuhan Anak (SNPA) dari pemerintah.

 

    

Madrasah Diniyah

PROFIL MADRASAH DINIYAH TAKMILIYAH

  1. NAMA MADIN : Muhammadiyah Tuksono
  2. TAHUN BERDIRI : 2005
  3. STATISTIK  : 31123410043
  4. ALAMAT                  : Karang, RT 07/ RW 04

Dusun                                   : Karang

Desa                                      : Tuksono

Kecamatan                         : Sentolo

Kabupaten                          : Kulon Progo

  1. TLP/HP                 : 081999112155/ 08156860301
  2. VISI                 : Menjadikan Madrasah Diniyah Muhammadiyah Tuksono sebagai    lembaga Pendidikan dan Dakwah yang mencetak kader-kader Islam berwawasan Muhammadiyah  yang cerdas, terampil, mandiri dan berakhlak mulia.

 

  1. MISI : Memberikan pendidikan Agama Islam (Aqidah,Akhlak,Ibadah dan         Muamalah) sesuai Al Qur’an dan As Sunnah Shohihah.

Memberikan pendidikan ketrampilan dan kemandirian sesuai dengan bakat, kemauan, minat anak asuh serta tuntutan perkembangan zaman.

 

  1. PROGRAM UNGGGULAN : 1. Tapak Suci
  2. Kewirausahaan
  3. DATA STATISTIK   :
  4. SANTRI
No TINGKAT L P JML
1. I’dadiyah 3 3 6
2. Awwaliyah 4 1 5
3. Wustha 4 1 5
4. Ulya 4 8 12

 

  1. TENAGA PENDIDIK
No.   JML
SD SMP SMA DIPL S1 S2
L P L P L P L P L P L P
1     1   4     1 2 1     9

Kisah

Syarat-Syarat Berbuat Maksiat

Seorang laki-laki datang ke hadapan Imam Ibrohim bin Adham dan bertanya. Wahai Imam ! Jiwaku mengajakku untuk berbuat maksiat kepada Allah maka berikanlah kepada sebuah nasehat !

Maka beliau menjawab : kalau jiwamu mengajakmu berbuat maksiat kepada Allah, maka tidak mengapa anda mematuhinya tapi aku mempunyai lima syarat yang harus anda penuhi.

Maka laki-laki tersebut berkata : sampaikan kepadaku syarat syarat tersebut.

Maka Imam Ibrohim bin Adham mulai menjelaskan : kalau anda hendak berbuat maksiat kepada Allah maka bersembunyilah di suatu tempat yang Allah tidak melihatmu.

Maka laki-laki tersebut berkata : Subhanallah… dimana aku hendak bersembunyi ! Sedangkan tidak ada sesuatu apapun yang tersembunyi dari Allah !

Kemudian Imam Ibrohim bin Adham menimpalinya : apakah anda tidak malu berbuat maksiat kepada Allah sedangkan Allah melihat anda ? Terdiamlah laki-laki tersebut.

Kemudian Imam Ibrohim bin Adham bertanya lagi : kalau anda hendak berbuat maksiat, jangan berbuat maksiat diatas bumi-Nya.

Lalu laki-laki tersebut dengan penuh keheranan berkata : kemana aku hendak pergi, sedangkan alam ini, semuanya milik-Nya ?

Maka Imam Ibrohim bin Adham berkata : apakah anda tidak malu berbuat maksiat kepada-Nya sedangkan anda tinggal diatas bumi-Nya ? Terdiamlah orang tersebut.

Imam Ibrohim bin Adham bertanya kembali : kalau anda hendak berbuat maksiat kepada Allah, jangan makan dari rejeki-Nya.

Orang tersebut menjawab : bagaimana aku bisa hidup ?! Padahal seluruh nikmat datangnya dari sisi-Nya !

Maka Imam Ibrohim bin Adham menimpali : apakah anda tidak malu bermaksiat kepada Allah sedangkan Dia yang telah memberi makan dan minum kepada anda ? Dan orang tersebut tidak mampu berkata sepatah katapun.

Kemudian Imam Ibrohim bin Adham bertanya lagi : kalau datang malaikat kepadamu dan membawamu ke neraka, jangan mau pergi bersamanya.

Maka orang tadi menjawab : Subhanallah… apakah aku mempunyai kekuatan untuk menghalangi mereka sedangkan mereka menarikku dengan kuat !

Maka Imam Ibrohim bin Adham melanjutkan penjelasannya : apabila datang catatan perbuatanmu maka ingkarilah apa yang tertulis di dalamnya.

Maka orang tersebut berkata : bagaimana dengan para Malaikat yang mencatat setiap amal perbuatan seseorang, mereka tidak pernah lalai dari tugas-tugasnya dan mereka akan memberikan kesaksiannya ?!

Lalu menangislah orang tersebut dan beranjak pergi !

Oleh: Ust. Abu Sa’ad

Berkahnya Mengasuh Anak Yatim

Berkahnya Mengasuh Anak Yatim

Bismillaahirrohmanirrohiim

Siapakah anak yatim itu?

Dari Sahl bin Sa’d as-Sa’idi berkata, Rosulullah sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “ Aku dan pengasuh anak yatim di syurga seperti ini,”seraya mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya, serta merenggangkan sedikit di antara keduanya.” (HR.Al-Bukhori)

Lafazh Al yatiim adalah anak kecil (belum baligh) yang ditinggal mati oleh ayahnya. Rosulullah shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada yatim setelah baligh”. Ash-shohihah : 3180

Lafazh ini berikut bentukan kata darinya diulang-ulang sebanyak 23 kali dalam Al-Qur’an, yakni 17 kali dalam ayat-ayat Madaniyah dan 6 kali dalam ayat-ayat Makiyyah, yang tersebar dalam 12 surat. Baik anak yatim kaya maupun yang miskin, mereka membutuhkan pengasuhan dilihat dari dua sisi:

  1. Sisi Pendidikan, Pengasuhan, dan Perlindungan.

Ajaran Islam mendorong ummatnya  untuk mengobati “luka bathin” anak-anak yatim. Dalam Islam, mereka diperlakukan dengan baik, sehingga jiwanya tidak terguncang karena kehilangan sosok ayahnya. Mereka masih dapat merasakan sosok pengganti ayah yang melindunginya, memperkuat tekadnya, dan memenuhi apa-apa yang mereka inginkan. Mereka tidak merasa kehilangan, kesepian, terkucilkan di masyarakat, yang tekadang dapat menyebabkan penyimpangan tabiat mereka menjadi cenderung berontak dan kriminal.

  1. Sisi Pemenuhan Materi

Islam mengajarkan memberi makan kepada anak yatim, menanggung biaya hidupnya, pakaianya, dan kebutuhan-kebutuhan lainya.

Kedua sisi ini merupakan bentuk taqorrub yang sangat bernilai di sisi Allah Azza wa Jalla. Bahkan Allah Ta’ala menjadikannya sebagai salah satu mitsaq (perjanjian yang kuat) terhadap kaum terdahulu, sebagaimana dalam firman-Nya:

Dan ingatlah ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat.” Tetapi kemudian kamu berpaling (mengingkari), kecuali sebagian kecil dari kamu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang.”(QS. Al-Baqarah: 83).

Allah azza wa Jalla berfirman: “Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang anak yatim. Katakanlah,” memperbaiki keadaan mereka adalah baik!” dan jika kamu nmempergauli mereka, maka mereka adalah saudara-saudaramu. Allah mengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan dan yang berbuat kebaikan. Dan jiika Allah menghendaki, niscaya Dia datangkan kesulitan kepadamu. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS.Al-Baqarah: 220).

Rasulullah sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang mengasuh anak yatim miliknya(anak-nya) atau milik (anak) orang lain, maka aku dan dia seperti dua jari ini di syurga.” Malik (salah seorang perawi hadits ini) berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.” HR. Muslim

 

Ayat dan hadits di atas menunjukkan tingginya keutamaan mengasuh anak yatim sekaligus menunjukkan besarnya perhatian Islam terhadap mereka.

1 2